
BANDUNG, Senin 18 Mei 2026. Suasana pagi di SMPN 2 Bandung terasa sedikit berbeda dari biasanya. Tidak ada suara riuh rendah siswa yang saling kejar di lapangan, pun tidak ada dentangan bel pergantian jam pelajaran yang santai. Yang ada hanyalah derap langkah penuh percaya diri dan senyum tipis sarat ketegangan dari para siswa kelas IX yang bersiap menghadapi momen krusial: Ujian Sekolah.
Hari ini menjadi penanda dimulainya perjuangan akhir mereka di bangku sekolah menengah pertama. Hebatnya, dari total 92 siswa yang terdaftar, tidak ada satu pun bangku yang kosong. Semuanya hadir dengan atribut lengkap, membawa kartu ujian, dan yang terpenting: membawa sejuta harapan.
Distribusi Ruangan dan Pengawasan Ketat
Untuk memastikan pelaksanaan ujian berjalan kondusif, nyaman, dan sesuai protokol, pihak sekolah membagi 93 peserta ke dalam 5 ruangan berbeda. Pembagiannya diatur secara proporsional:
Ruang 1 sampai Ruang 4:Masing-masing diisi oleh 20 siswa.
Ruang 5: Menjadi ruangan khusus yang diisi oleh sisa peserta, yaitu 12 siswa
Meski jumlah siswa di Ruangan 5 lebih sedikit, atmosfer keseriusan di dalamnya sama sekali tidak berkurang. Di setiap sudut ruangan, tampak dua pasang mata yang mengawasi dengan jeli namun tetap ramah. Ya, masing-masing ruangan dikawal oleh 2 orang pengawas internal dari guru SMPN 2 Bandung sendiri.
“Kami sengaja menerjunkan pengawas internal yang sudah dikenal siswa agar suasana ujian tidak terlalu mencekam bagi anak-anak, namun tetap menjaga integritas dan kejujuran ujian secara ketat,” ujar salah satu panitia ujian di sela-sela kesibukannya.
Cerita dari Meja Ujian: Menguji Pengetahuan dan Budi Pekerti
Materi ujian yang diujikan pada hari pertama ini adalah Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Sebuah mata pelajaran yang tidak hanya menguji seberapa kuat ingatan siswa terhadap teori, tetapi juga menyentuh aspek spiritual dan moral mereka.
Ada cerita menarik dari Ruang 3 sebelum ujian dimulai. Putri Perm*t* S*ri, salah satu siswa, tampak panik karena pensil 2B miliknya tertinggal dirumah dan ia juga lupa membawa rautan. Melihat temannya kesusahan, Rosid yang duduk di baris sebelah tanpa ragu menyodorkan pensil cadangannya sambil membisikkan kata, *”Semangat, ya!”*
Pemandangan kecil ini justru menjadi bukti nyata bahwa pelajaran “Budi Pekerti” yang tertulis di lembar soal hari ini sudah mereka praktikkan bahkan sebelum ujian dimulai. Nilai-nilai solidaritas dan empati spontan muncul di tengah kompetisi.
Serentak Se-Kabupaten Serang
Pelaksanaan Ujian Sekolah di SMPN 2 Bandung ini merupakan bagian dari agenda besar yang dilaksanakan secara serentak oleh seluruh sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Serang. Melalui ujian yang tersinkronisasi ini, diharapkan standar kelulusan dan mutu pendidikan di wilayah Kabupaten Serang dapat terukur dengan baik dan merata.
Kepala Sekolah SMPN 2 Bandung Bapak Sutardi, S.Ag. menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran hari pertama ini.
“Kehadiran 100% ini adalah modal awal yang luar biasa. Ini menunjukkan komitmen tinggi dari siswa dan dukungan penuh dari orang tua murid di rumah. Semoga hasil yang diraih anak-anak nanti berbanding lurus dengan kerja keras mereka.”
Ujian hari pertama pun ditutup dengan helaan napas lega dari para siswa saat bel akhir berbunyi. Satu tahapan telah terlewati, namun perjuangan belum usai. Esok hari, lembaran soal baru telah menanti untuk ditaklukkan. Tetap semangat, siswa-siswi SMPN 2 Bandung!

